Langsung ke konten utama

Postingan

Kebahagiaan Bertumpu pada Sate Ayam Madura

Perbedaan adalah keniscayaan. Setiap orang punya definisi tentang sesuatu yang berbeda. Contohnya, bagi si A sukses itu bisa bangun di pagi hari tanpa mematikan alarm lagi. Menurut si B, sukses itu ketika dia bisa punya gaji dua digit. Definisi sukses menurut si A dan si B itu tidak salah. Dua-duanya valid menurut pendapat masing-masing. Pada suatu hari, aku bersama lima temanku terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang laki-laki dari generasi boomers. Laki-laki itu mulanya bertanya satu per satu tentang pekerjaan kami. Oh ya, kebetulan aku dan empat temanku (kecuali satunya), belum menikah, kebetulan juga kami masih single. Laki-laki tua itu seolah mengasihani kami. Pertama karena gaji kami belum mentereng (padahal salah satu dari kami itu ada yang sudah punya usaha sendiri dan mampu beli mobil). Kedua, tentu saja karena kami masih single. Status single seolah-olah adalah sebuah petaka bagi si generasi boomers itu. Dan aku rasa, banyak juga generasi boomers berpikir hal yang sam...

Mampir ke Rumah Orang Lain

Barusan, aku mampir melihat kehidupan teman-temanku yang dibagikan lewat sosial media mereka. Banyak yang sudah terbang jauh. Melakukan A, B, C, dan D. Menemukan ini dan itu. Mencapai banyak sekali gemintang di angkasa. Tiba-tiba saja, aku mulai melihat ke dalam diri. Melakukan tindakan dzalim dengan membandingkan diriku dengan mereka. Sebelum pikiran negatif itu menyebar kemana-mana, lajunya segera kuhentikan. Bukankah aku juga melakukan perkembangan? Bukankah aku juga telah menempuh perjalanan panjang? Bukankah aku juga sudah menggapai gemintang? Bukankah aku juga telah menemukan yang hilang?  Tanpa sadar, aku kerap mampir ke rumah orang lain. Lalu pulang dari sana sambil membawa keresahan setelah melihat cerita-cerita mereka yang terbingkai manis di dinding rumah.  Rumahku dan rumah orang lain jelas berbeda. Desainnya tidak sama. Pemilihan material bangunannya pun boleh jadi tidak sama 100%. Lantas kenapa kita kerap sibuk melihat ke rumah orang lainlain yang isi rumah dan k...

Big Why

Punya "why" dalam hidup itu penting, gw rasa. Sebab ketika lu sudah tahu jawaban dari why yang lu punya, itu berarti lu sudah tahu tujuan lu. Oh, ya, "why" atau "big why" ini adalah oleh-oleh dari sebuah live instagram yang gw lakukan saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2023 lalu. Dalam live itu, gw bersama dua narasumber ngobrolin seputar sampah yang kian hari makin mengerikan. Kalau gw simpulkan, kita perlu tahu big why kita ketika hendak melakukan sesuatu.  Meski konteks ini sedang membicarakan sampah, tapi gw rasa bisa ditarik ke dalam ranah kehidupan yang lebih luas. Ini menjadi hentakan spesial buat gw. Selama ini gw kerap memulai melakukan sesuatu, tapi kandas di tengah jalan. Entah gw belum menemukan alasan yang jelas terkait dengan tujuan dari apa yang gw lakuin atau memang mental dan motivasi gw masih lembek, alias masih ogah-ogahan. Omong kosong belakang. Contoh sederhananya, gw kerap ditanya ketika ngobrol random deng...

Sebab seumur hidup adalah waktu yang lama

Aku pikir sudah menyiapkan dengan baik dan cukup, ternyata belum. Maka, satu hari, satu jam, atau satu menit adalah waktu yang lama untuk sebuah ketidaknyamanannya.  Kira-kira itulah pelajaran yang bisa aku ambil saat tidur di tenda sendirian dengan alas tidur berupa karpet yoga, bantalan kepala topi kupluk, dan penghangat badan berupa jaket tebal. Awalnya aku mau bawa bantal kecil untuk tidur, tetapi urung. Ku pikir hanya semalam dan barang bawaan sudah cukup. Nyatanya aku tidak bisa tidur dengan baik. Selain karena kondisi di atas, beberapa kali aku mendengar suara langkah kaki di luar tenda. Kadang-kadang aku merasakan ada seseorang yang sedang menyentuh tendaku. Berupaya untuk tetap positif ternyata menantang sekali ketika berada di posisi itu. Dalam hati terus bergumam bawa semua akan berlalu, sebentar lagi lagi dan bla bla bla. Dan ternyata jaket panjang yang kata Mamaku berbahan karpet ini, belum cukup menghalau dingin. Padahal celana sudah double, kaos kaki pun sudah double...

Rasa nyaman atau aman yang harus ada terlebih dahulu?

Jika ditanya mana yang paling penting antara kedua hal tersebut, jawabannya adalah dua-duanya. Namun menurutku, mana yang harus ada terlebih dahulu itu tergantung konteks. Aku mendapatkan jawaban ini setelah melerai perkelahian diri yang terjadi di kepala tentang hal ini.  Rasa aman akan menciptakan kenyamanan. Tetapi, kenyamanan belum tentu menciptakan rasa aman. Kenyamanan yang dimaksud berkenaan dengan konteks negatif, atau bisa disebut juga dengan manipulatif. Barangkali kamu pernah terjebak dalam situasi ini. Jika iya, kamu akan tahu apa yang aku maksudkan. Kamu dibuat sedemikian rupa agar bisa merasakan kenyamanan, tetapi seiring berjalan waktu, justru kenyamanan itulah yang membunuh kamu pelan-pelan. Kamu yang kadung sudah jatuh di lubang itu, merasa "malas" untuk keluar. Jiwa dan ragamu merindu, tetapi sebenarnya kamu kehilangan dirimu.  Aku akan membiarkan tulisan ini seperti ini. Selain aku butuh istirahat sekarang, aku ingin kamu (juga aku) menyelesaikannya sendiri...

Cara Merayakan Kesedihan

Hari ini, seorang temanku dari Kenya mengatakan bahwa dia telah kehilangan seseorang yang ia cintai. Aku bertanya kepadanya, apakah dia adalah kekasihmu? Dia menjawab, "Bukan. Ayahku telah meninggal dunia." Barangkali saat dia mengatakan hal itu, pundaknya kembali rapuh, langit seolah runtuh. Atau sebutir air mata kembali turun lihai meninggalkan jejak di pipinya. Meskipun dia berkali-kali meyakinkanku bahwa dirinya kuat dan baik-baik saja. Kebohongan macam apa itu? Tidak ada satu pun orang yang siap dan kuat atas kehilangan sesuatu, terlebih lagi seorang yang begitu dekat hubungan darahnya dengan kita. Apalagi posisi temanku ini sedang berada di luar Kenya, tepatnya dia sedang bekerja di Istanbul, Türkiye. Aku bisa merasakan bagaimana raganya meminta pulang untuk memberikan peluk yang terakhir, tetapi kenyataan menolaknya mentah-mentah. Kukatakan padanya bahwa tidak apa-apa merasakan sedih. Tidak berdosa merasakan rapuh. Bukankah perasaan sedih juga perlu dirayakan kehad...

Menikmati Perjalanan

Belakangan saya menyadari bahwa setiap kita di muka bumi ini telah di tempatkan dalam kendaraan yang berbeda-beda untuk menjalankan hidup. Ada yang di tempatkan di pesawat, mobil, bus, kereta, motor, bahkan becak. Dan tentu saja rute dan next stop nya pun berbeda-beda.  Ada yang lulus kuliah cepat, tapi tidak langsung dapat pekerjaan. Ada yang belum lulus kuliah, tapi penghasilannya sudah mentereng. Ada yang sudah menikah, tapi tidak langsung dikaruniai anak, tapi di sisi lain Allah menganugerahkan hal-hal baik untuk pasangan tersebut. Ada yang belum mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, tapi kemudian ada seseorang yang datang melamar dan mengubah nasibnya. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan, banyak berkarya, tapi belum bertemu dengan jodohnya. Kalau saya tulis semua kondisi-kondisi yang lain, tulisan ini tidak akan kelar-kelar. 😅 Titik akhir dari perjalanan setiap kita adalah kematian. Dan dari semua itu, yang harus digaris bawahi adalah menikmati perjalanannya. Baik c...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Empat

Ketika hari terasa sulit dan sempit, serta syukur menjadi pelit, seseorang memutuskan pergi jalan-jalan ke luar dengan tubuh yang dililit rantai. Pertama, ia memerhatikan segala hal yang melekat pada tubuhnya. Lalu, segala hal yang telah berada dalam genggaman. Rantai yang membelitnya perlahan mengendur, meski masih ada rasa sesak.  Setelah itu, ia mulai menyebar pandang pada apa saja yang dilewatinya; supir angkutan yang menyeka peluh, penjual kaki lima, badut jalanan, tukang parkir, pembersih jalanan, hingga pengais sampah.  Rantai yang memeluknya mulai tidak terasa sesak.  Seseorang itu menatap langit dan mulai merasakan seluruh tubuhnya; mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar suara, hidung yang bisa mencium aneka aroma, mulut yang bisa berbicara, lidah yang bisa mengecap rasa, otot-otot dan sendi yang bisa bergerak, kulit yang bisa menyentuh dan merasakan ragam rupa, degup jantung berirama, serta hati yang bisa merasa. Semuanya terasa sempurna.  Tubu...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Ketiga

Kamu memiliki banyak kebencian terhadap dirimu. Salah satunya adalah patah yang tiba-tiba saja mengetuk pintu hati. Bebannya menjadi dua kali lebih berat, sebab orang-orang yang tak mengerti memerintahkan kamu untuk bangkit segera, lalu berlari kencang sekuat tenaga. Aku memahami sembilu itu. Kamu seperti terlempar jauh ke dalam lorong sunyi dan kamu sendirian di sana. Tidak ada cahaya dan hanya jasad mengelilingi kamu.  Namun, kamu masih punya setitik cahaya yang enggan kamu padamkan. Ketahuilah bahwa itu adalah salah satu hal yang bikin hatiku ingin selalu mendekap kamu.  Kamu berjalan perlahan, menatap satu demi satu kepala yang ada di jalanan. Kamu mendaki setiap kepala, lalu menemukan bahwa aliran sungai dari kedua matamu tidak pernah sendirian.  Banyak benang kusut yang menaungi setiap kepala itu yang ingin diluruskan dengan rapi.  Lantas bibirmu melontar syukur berkali-kali kepada Tuhan. Kamu menemukan cinta ada di mana-mana, termasuk dalam dirimu yang tak pe...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Kedua

Senyuman memang selalu indah. Tetapi aku juga menemukan definisi itu dalam rupa kesedihanmu. "Mengapa" seharusnya menjadi sebuah kata yang membuat seseorang mengernyitkan kening. Tetapi tidak denganku. Semakin kulihat luka di ragamu, semakin aku jatuh cinta.  Duhai, Februari, izinkan aku menetap dalam perih dan sesakmu, dalam duka dan marahmu, dalam kecewa dan takutmu. Tidak untuk sesekali, tetapi untuk selamanya. Sebab tubuhku adalah rumah kekal untuk jiwamu.  Bogor, 2 Februari 2023

Surat Cinta untuk Februari #Bagian 1

Bukankah aku telah berjanji padamu, Februari?  Malam ini kusambut engkau penuh sukacita.  Dalam dada sudah kuramu puisi cipta bahagia.  Dekapku 'kan membawa kamu ke angkasa.  Dalam tabur doa pada setiap malam, kubelai luka.  Jemariku adalah lerai dalam riuhmu.  Gemuruh sukma kian gemar sabda merdu; pada setiap inci senyum duka dan bahagiamu, aku jatuh cinta kepadamu berkali-kali, setiap hari.  Bogor, 1 Februari 2023

Jurnal Pagi: You are Allowed to say No

  I got the feeling of satisfying of happiness. I think I do. But when time flies by, I am realize that there is something wrong. Suddenly one question is popped up on my head, running back and forth, falling down just like rain in the wrong period. It's "Why I feel bad after helping someone? Is it right? I hurt myself instead." I have been observing this, trying to figure it out. And this morning I thought I found the answer. It's because I always say 'yes' when I actually want say 'no'. I'm hurt because my trust has been tarnished little by little.   Last night, I was decided to say 'no' when someone came to me asked if I can lend him some money. Well, actually it's not about the money. It's about my trust. I actually tell him the truth why I couldn't lend him some money. But, I would feel bad to myself when I decided to say 'yes'. Like I said before, I would gonna hurt myself. And  in my opinion that's not kind o...

Jurnal Pagi: Keanehan

 Perasaan aneh atau bisa juga kebingungan menghampiri diri kemarin. Perasaan itu seperti menyelimuti perlahan seluruh tubuhku. Saat terbangun di pagi hari tadi, kurasa rasa aneh itu masih ada.  Ini bermula ketika aku memutuskan untuk berubah. Kuganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang kuharap bermanfaat bagi jiwa dan raga.  Saat memulai, sungguh tidak ada rintangan yang berarti. Godaan malas tidak menjadi bola besi yang merantai raga. Barangkali tekadku sudah kokoh hingga tidak ada yang bisa menggoyahkan.  Kebiasaan pertama adalah aku sangat mengurangi konsumen media sosial instagram. Ini untuk mengurangi kecanduan, insecure, anxiety, dan overthinking ku. Kedua, membiasakan diri untuk mandi setelah pulang dari kantor. Tujuannya agar aku bisa tidur nyenyak dan berkualitas sehingga esoknya tidak mengantuk atau merasa kelelahan. Ketiga, membiasakan bangun pukul 4 pagi, dilanjutkan mandi, solat tahajjud dan witir, lalu solat subuh, membaca quran, setelahnya membac...

Pikiran: Kalimat Kuno yang Masih Harus Kita Percaya

 "Alah bisa karena biasa." Saat pertama kali mendengar sebuah kalimat pribahasa tersebut, aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah pribahasa dengan makna yang sulit untuk dibantah. Sesuatu akan mudah dikerjakan ketika kita sudah terbiasa mengerjakannya.  Pada suatu waktu belum lama ini, aku memastikan untuk rutin olahraga. Tidak perlu memakan waktu banyak, yang penting bisa berkeringat. Jadi kuputuskan untuk mencari "pelatih" lewat kanal YouTube (omong-omong bicara soal YouTube, media ini sungguh keren. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dan pelajari. Menurutku, rugi sekali jika kita tidak bisa memaksimalkan manfaatnya).  Sebenarnya aku bisa saja meluangkan waktu sekitar 30 menit setelah solat subuh untuk pergi keluar rumah, lalu lari pagi. Namun, karena akhir-akhir ini udara sedang dingin-dinginnya, kuputuskan untuk olahraga di rumah saja.  Dengan panduan video di YouTube itu aku mulai beraksi. Aku ikuti setiap gerakan yang dicontohkan sang instruktur. Olahr...

Puisi: Sedang Mencari Apa, Nona?

Sedang mencari apa, Nona?  Bukankah rindu itu telah musnah?  Bukankah telah hilang jejak-jejaknya oleh gerimis dan waktu yang renta?  Sedang mencari apa, Nona?  Ombak yang kau cari telah mendebur suara yang berbeda Langkahmu akan bergerak menuju pantai yang berbeda Sedang mencari apa, Nona?  Pulanglah...  Sebab peranmu telah usai Dia telah merdeka dari jerat kehidupan yang malang -Bogor, pada malam yang dingin, di bulan Juni 20 Juni 2022- Aulia Alver

Jurnal Pagi: Topik yang Bikin Sensitif

Aku tidak tahu kapan tepatnya hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan menjadi sensitif. Ada rasa tidak nyaman, bahkan amarah yang perlahan naik jika dikaitkan dengan diriku.  Pernah dengar seseorang bicara katanya kalau ada orang yang tersinggung karena suatu topik, sebenarnya orang tersebut tengah terluka. Dan tentu saja setiap luka berbeda. Ada yang masih basah, setengah kering, kering, atau sudah tak ada lagi bekas luka di sana. Setiap kondisi luka punya daya tahannya masing-masing. Jika membicarakan luka yang kumiliki, mungkin bisa kukatakan lukanya masih basah, tetapi menuju kering (sebenarnya aku pun tidak yakin apakah benar menuju kering?)  Otakku perlahan mencoba memanggil memorinya. Di mana pertama kali aku terjatuh hingga terluka sebegininya?  Apakah saat perceraian kakakku? Apakah saat orang yang aku sukai tiba-tiba saja mengirimkan surat undangan pernikahan? Apakah keputusan egoisku saat membiarkan orang lain masuk padahal hatiku baru saja patah? Atau, apakah...

Jurnal Pagi: Dunia Kedua

Kebetulan aku belum memilih topik apa yang akan kutulis untuk Jurnal Pagi-ku kali ini. Namun, usai bergantian menyetrika baju dengan Ibu, aku sengaja menonton serial kartun di kanal YouTube yang rutin kutonton di televisi pada hari Minggu sewaktu kecil dulu; Doraemon.  Setelah selesai menonton satu judul, ku beralih ke kartun Chibi Maruko-Chan, yang juga sempat menjadi tontonan rutin semasa kecil dulu. Ku perhatikan gambar-gambar kartun bergerak dengan warna-warna yang menarik pada animasi tersebut . Ada bawang yang memiliki mata dan bisa berjalan, ada buah-buahan yang juga memiliki kondisi serupa, dan lain sebagainya bikin aku senyum-senyum.  Apa yang sedang kutonton ternyata membangkitkan memori masa kecil aku dulu.  Aku pernah ingin masuk ke dunia kartun atau menjadi bagian dari gambar-gambar ilustrasi yang tertera pada buku belajar membaca. Menurutku waktu itu, tampaknya akan seru menjelajahi dunia lain selain dunia yang kutinggali sekarang. Bagaimana, ya, rasanya mem...

Pikiran: Kemewahan

Aku akan membuka tulisan ini dengan pertanyaan "Apa definisi mewah itu?" Sebenarnya aku mendapatkan pertanyaan itu kala sedang menonton sebuah video dari kanal YouTube Her 86m2 dengan judul Simple Luxury.  Katanya, "sometimes luxury has nothing to do with money." Pendapatnya itu tak kuasa aku bantah. Aku meng - iya. Dalam definisiku, kemewahan adalah sesuatu yang istimewa sehingga tidak banyak orang mampu mendapatkannya. Harganya terlalu "mahal" untuk dimiliki. Atau, bisa juga melakukan aktivitas tertentu yang orang lain jarang melakukannya. Kemewahan adalah sesuatu yang jarang. Tetapi, perlu aku sampaikan pendapatku bahwa kemewahan tidak selalu berkaitan dengan uang. Sometimes luxury has nothing to do with money. Pikiranku mengembara pada potret-potret peristiwa yang telah terjadi dalam hidup. Aku memanggil kembali rekaman yang diabadikan oleh otakku tentang hal-hal apa saja yang bagiku mewah. Pertama, kemewahan bagiku ketika menikmati suasana jalan ...

Jurnal Pagi: Luka

Pada suatu waktu, setelah membaca beberapa lembar buku yang sudah lama teronggok di antara tumpukan buku yang menunggu antrean baca, aku terlempar ke dalam diam. Aku duduk termangu menghadap tembok kamar yang bisu.  Tiba-tiba saja aku melihat diriku yang lain, tepat di hadapanku. Seperti ada cermin ukuran besar yang muncul begitu saja. Semakin diperhatikan, semakin terlihat begitu banyak luka lebam di seluruh tubuhku yang malang.  Pada setiap luka itu terdapat rekaman memori tentang dari mana luka itu berasal. Perasaanku menjadi tidak enak. Aku bisa merasakan luka-luka itu. Dari marah, kecewa, patah, gagal, duka.  Kuperhatikan satu per satu sambil merasakan ketidaknyamanannya dalam dada. Rupanya telah lama kuabaikan mereka. Lupa untuk menyembuhkan hingga semua luka itu membusuk. Mungkin indra penciumanku sudah kebal hingga aroma tidak sedap dari lukaku tak mampu terendus.  Bayangan berseliweran di atas kepala menampilkan potongan kisah yang menyebabkan aku terluka. S...

Menjadi Manusia: Sudahkah Kita Siap?

Mendengar pemberitaan kematian Eril yang mendadak membuatku tercenung. Perasaan ini juga kurasakan saat mendengar berita kematian Vannesa Angel dan suami karena kecelakaan.  Kematian adalah keniscayaan bagi makhluk yang bernyawa. Namun, sudahkah kita siap? Sudah sejauh mana dan sebanyak apa perbekalan yang akan kita bawa pulang?  Almarhum Eril pastinya tak akan pernah menyangka bahwa hari itu adalah jadwalnya ia untuk pulang. Dan siapa pun yang telah meninggal pasti tidak akan pernah menyangka sebab kematian adalah rahasia, namun pasti.  Detik ini kita masih bernapas, tetapi belum tentu besok. Hari ini kita masih bisa berhaha-hihi, tetapi belum tentu besok.  Ketakutan meliputi diriku. Bagaimana jika waktuku telah berakhir, dan aku belum siap?  Semoga kita selalu di jalan Yang Kuasa.