Langsung ke konten utama

Jurnal Pagi: You are Allowed to say No

 

I got the feeling of satisfying of happiness. I think I do. But when time flies by, I am realize that there is something wrong. Suddenly one question is popped up on my head, running back and forth, falling down just like rain in the wrong period. It's "Why I feel bad after helping someone? Is it right? I hurt myself instead."


I have been observing this, trying to figure it out. And this morning I thought I found the answer. It's because I always say 'yes' when I actually want say 'no'. I'm hurt because my trust has been tarnished little by little.

 
Last night, I was decided to say 'no' when someone came to me asked if I can lend him some money. Well, actually it's not about the money. It's about my trust. I actually tell him the truth why I couldn't lend him some money. But, I would feel bad to myself when I decided to say 'yes'. Like I said before, I would gonna hurt myself. And  in my opinion that's not kind of kindness. Kindness will give you warmth  to your body. You gonna feel relax and happy as well.

 
At the end of the day, I know I can't be forever say 'yes' for every single thing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Kedua

Senyuman memang selalu indah. Tetapi aku juga menemukan definisi itu dalam rupa kesedihanmu. "Mengapa" seharusnya menjadi sebuah kata yang membuat seseorang mengernyitkan kening. Tetapi tidak denganku. Semakin kulihat luka di ragamu, semakin aku jatuh cinta.  Duhai, Februari, izinkan aku menetap dalam perih dan sesakmu, dalam duka dan marahmu, dalam kecewa dan takutmu. Tidak untuk sesekali, tetapi untuk selamanya. Sebab tubuhku adalah rumah kekal untuk jiwamu.  Bogor, 2 Februari 2023

Rasa nyaman atau aman yang harus ada terlebih dahulu?

Jika ditanya mana yang paling penting antara kedua hal tersebut, jawabannya adalah dua-duanya. Namun menurutku, mana yang harus ada terlebih dahulu itu tergantung konteks. Aku mendapatkan jawaban ini setelah melerai perkelahian diri yang terjadi di kepala tentang hal ini.  Rasa aman akan menciptakan kenyamanan. Tetapi, kenyamanan belum tentu menciptakan rasa aman. Kenyamanan yang dimaksud berkenaan dengan konteks negatif, atau bisa disebut juga dengan manipulatif. Barangkali kamu pernah terjebak dalam situasi ini. Jika iya, kamu akan tahu apa yang aku maksudkan. Kamu dibuat sedemikian rupa agar bisa merasakan kenyamanan, tetapi seiring berjalan waktu, justru kenyamanan itulah yang membunuh kamu pelan-pelan. Kamu yang kadung sudah jatuh di lubang itu, merasa "malas" untuk keluar. Jiwa dan ragamu merindu, tetapi sebenarnya kamu kehilangan dirimu.  Aku akan membiarkan tulisan ini seperti ini. Selain aku butuh istirahat sekarang, aku ingin kamu (juga aku) menyelesaikannya sendiri...

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...