Langsung ke konten utama

Jurnal Pagi: Luka

Pada suatu waktu, setelah membaca beberapa lembar buku yang sudah lama teronggok di antara tumpukan buku yang menunggu antrean baca, aku terlempar ke dalam diam. Aku duduk termangu menghadap tembok kamar yang bisu. 

Tiba-tiba saja aku melihat diriku yang lain, tepat di hadapanku. Seperti ada cermin ukuran besar yang muncul begitu saja. Semakin diperhatikan, semakin terlihat begitu banyak luka lebam di seluruh tubuhku yang malang. 

Pada setiap luka itu terdapat rekaman memori tentang dari mana luka itu berasal. Perasaanku menjadi tidak enak. Aku bisa merasakan luka-luka itu. Dari marah, kecewa, patah, gagal, duka. 

Kuperhatikan satu per satu sambil merasakan ketidaknyamanannya dalam dada. Rupanya telah lama kuabaikan mereka. Lupa untuk menyembuhkan hingga semua luka itu membusuk. Mungkin indra penciumanku sudah kebal hingga aroma tidak sedap dari lukaku tak mampu terendus. 

Bayangan berseliweran di atas kepala menampilkan potongan kisah yang menyebabkan aku terluka. Seumpama pemutaran video dokumenter yang meski sakit, tetapi tetap harus kau tonton. 

Pada suatu waktu itu, setelah puas bercermin, aku menemukan diriku yang lain, diri yang mau berdamai, diri yang memiliki kekuatan untuk mau menerima, diri yang mau merawat luka-luka hingga satu per satu semua luka itu sembuh, diri yang mau berjalan kembali untuk menemukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAHADAT CINTA DI UJUNG SENJA oleh Fitri Nurul Aulia

Detak jarum jam yang terus melangkah menggema ke seluruh ruangan bercat putih. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Seorang Gadis masih sibuk membenahi sebuah toko busana muslimah milik bibinya yang terletak di jalan Istiklal Street , daerah Taksim, Istanbul. Setelah selesai berbenah, Gadis berparas timur tengah itu bergegas meraih mantel berwarna coklatnya, yang tak jauh dari meja kasir tempat yang ia duduki sekarang. Tak lupa, ia juga melingkarkan syal tebal berwarna putih di lehernya yang senada dengan warna hijabnya. Maklum, di luar sana, salju di bulan Desember sedang turun dengan derasnya—hingga kota bak di selimuti dengan mantel putih nan bersih namun beraura kaku. Gadis itu tak akan rela jika tubuhnya diselimuti rasa dingin yang menusuk tulang dan membekukan persendian. Setelah menggembok rapi pintu pagar toko, segera ia melesat meniggalkan toko menuju apartemen yang ditinggalinya bersama paman dan bibinya. Turunnya salju yang disertai hembusan an...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Kedua

Senyuman memang selalu indah. Tetapi aku juga menemukan definisi itu dalam rupa kesedihanmu. "Mengapa" seharusnya menjadi sebuah kata yang membuat seseorang mengernyitkan kening. Tetapi tidak denganku. Semakin kulihat luka di ragamu, semakin aku jatuh cinta.  Duhai, Februari, izinkan aku menetap dalam perih dan sesakmu, dalam duka dan marahmu, dalam kecewa dan takutmu. Tidak untuk sesekali, tetapi untuk selamanya. Sebab tubuhku adalah rumah kekal untuk jiwamu.  Bogor, 2 Februari 2023

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...