Langsung ke konten utama

Patah - Sebenarnya, Untuk Apa Aku Menangis? - Episode 3

 


Sejak patah hati, rupanya tubuhku terasa lebih lelah. Mungkin, ini dampak dari berpura-pura bahagia di depan banyak orang. Berakting bahwa semuanya baik-baik saja. 


Kumatikan lampu kamar, lalu berbaring di atas ranjang. Mataku menatap ke atas, ke langit-langit kamar. Keadaan seperti ini sangat cocok untuk menikmati sebuah kemalangan. Air mataku meleleh tanpa sadar bersama hadirnya segala hal tentang dia. Tak ubahnya seperti film dokumenter yang diputar tepat di depanmu. Bedanya, film yang sedang kutonton ini sedang mencabik-cabik hati dan pikiran. Kepalaku sakit sekali rasanya. Seperti dihantam  benda berukuran besar. 


Tuhan, aku mengalami kebingungan yang cukup hebat. Aku tidak tahu untuk apa air mata ini mengalir. Apakah ini sebuah penyesalan karena tidak pernah mencoba mengungkapkan perasaanku atau karena merindukan kenangan bersamanya semata? 


Aku tersedu-sedu. 


Atau, apakah aku sedang menangisi kebodohanku sebab masih saja memupuk tentangnya meski perpisahan itu sudah terjadi dua tahun silam? 


Aku tidak tahu. 


Malam itu, untuk kesekian kalinya bantal dan selimut menjadi teman terbaikku menumpahkan kesedihan. Rela kubasahi tanpa kata "tapi".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAHADAT CINTA DI UJUNG SENJA oleh Fitri Nurul Aulia

Detak jarum jam yang terus melangkah menggema ke seluruh ruangan bercat putih. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Seorang Gadis masih sibuk membenahi sebuah toko busana muslimah milik bibinya yang terletak di jalan Istiklal Street , daerah Taksim, Istanbul. Setelah selesai berbenah, Gadis berparas timur tengah itu bergegas meraih mantel berwarna coklatnya, yang tak jauh dari meja kasir tempat yang ia duduki sekarang. Tak lupa, ia juga melingkarkan syal tebal berwarna putih di lehernya yang senada dengan warna hijabnya. Maklum, di luar sana, salju di bulan Desember sedang turun dengan derasnya—hingga kota bak di selimuti dengan mantel putih nan bersih namun beraura kaku. Gadis itu tak akan rela jika tubuhnya diselimuti rasa dingin yang menusuk tulang dan membekukan persendian. Setelah menggembok rapi pintu pagar toko, segera ia melesat meniggalkan toko menuju apartemen yang ditinggalinya bersama paman dan bibinya. Turunnya salju yang disertai hembusan an...

IT WAS A WILD ADVENTURE TO BE A PRINCESS by Fitri Nurul Aulia (041114039)

Maybe you have been dreaming about to be one of the princesses in fairy tales who married to the princes. They are cool when they ride the horses. And, it was Friday, 4th of November 2016. The sun is cooperated with our plan, my friends’ and mine. Sunny day. We were going to make our dreams come true—even though it’s just our imagination—visiting horses’ stable in order to get some knowledge about horse and to ride it just like the princess. We promised to meet up in our campus at 8 A.M so as soon as we could leave to the stable. Promise was just a promise which was so hard to be done. The two of us were late. Does the princess late in fairy tale? We kept waiting for them on the bridge that really close to our campus. While waiting, we stared at the cars and motorcycles that passed by, hoping that our friends who were still on the way would coming soon. As we had known an information from the horse’s keeper that the horse would be stabled at about 11:30 A.M, our hearts went fast...

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...