Langsung ke konten utama

Patah - Tentang Dia - Episode 7



Membuka percakapan lama, membuat pikiranku berkelana. Namun setelahnya, aku ditampar habis-habisan dengan kenyataan. Dadaku kembali sesak. Kepala kembali berdenyut. Leher seperti ada yang mencekik. Mataku terasa panas. 


Dion akan segera menikah.  


***


Aku yang sedang kosong saat itu, menerima kehadiran Dion dengan mudah. Sebagai teman. 


"Temenin aku keliling Bogor, dong? Sejak tiba di Bogor, aku belum kemana-mana." Pintanya. 


Aku setuju begitu saja. Baiklah. Dia amat menyedihkan begitu. Tidak punya  siapa-siapa di sini dan jauh dari orang tua. Tunggu dulu, apa? Keliling Bogor? Aku anak rumahan, kan. Tapi ya sudahlah. Kubawa dia ke tempat yang aku tahu saja. 


Kenyataannya, yang dia kunjungi pertama kali setelah kami berjumpa adalah rumahku. Dia datang dengan membawa beberapa camilan dari sebuah minimarket. 


Sungguh lelaki yang berani dan percaya diri. 


Sebelumnya, telah kuceritakan pada orang tuaku soal Dion ini. Mereka tidak mempermasalahkan. Ibuku pun mempersilakan ketika diberi tahu bahwa Dion ingin silahturahmi ke rumah. 


Kata "canggung" sepertinya tidak pernah ada di kamus Dion. Seperti air mengalir dan secepat lesatan anak panah, Dion dengan mudahnya menjadi akrab dengan keluargaku. Bahkan ia bisa akrab dengan tetanggaku. Memang kebetulan mereka berasal dari daerah yang sama. Pantas saja. Tapi memang begitulah dia. Pribadi yang supel. Bukan berlagak sok kenal. Mungkin itu sebuah anugerah yang Tuhan titipkan kepadanya. Di tempat asing pun ia bisa dengan mudah mendapatkan teman. 


Dan itu salah satu yang aku sukai dari dia. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Big Why

Punya "why" dalam hidup itu penting, gw rasa. Sebab ketika lu sudah tahu jawaban dari why yang lu punya, itu berarti lu sudah tahu tujuan lu. Oh, ya, "why" atau "big why" ini adalah oleh-oleh dari sebuah live instagram yang gw lakukan saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2023 lalu. Dalam live itu, gw bersama dua narasumber ngobrolin seputar sampah yang kian hari makin mengerikan. Kalau gw simpulkan, kita perlu tahu big why kita ketika hendak melakukan sesuatu.  Meski konteks ini sedang membicarakan sampah, tapi gw rasa bisa ditarik ke dalam ranah kehidupan yang lebih luas. Ini menjadi hentakan spesial buat gw. Selama ini gw kerap memulai melakukan sesuatu, tapi kandas di tengah jalan. Entah gw belum menemukan alasan yang jelas terkait dengan tujuan dari apa yang gw lakuin atau memang mental dan motivasi gw masih lembek, alias masih ogah-ogahan. Omong kosong belakang. Contoh sederhananya, gw kerap ditanya ketika ngobrol random deng...

Cara Merayakan Kesedihan

Hari ini, seorang temanku dari Kenya mengatakan bahwa dia telah kehilangan seseorang yang ia cintai. Aku bertanya kepadanya, apakah dia adalah kekasihmu? Dia menjawab, "Bukan. Ayahku telah meninggal dunia." Barangkali saat dia mengatakan hal itu, pundaknya kembali rapuh, langit seolah runtuh. Atau sebutir air mata kembali turun lihai meninggalkan jejak di pipinya. Meskipun dia berkali-kali meyakinkanku bahwa dirinya kuat dan baik-baik saja. Kebohongan macam apa itu? Tidak ada satu pun orang yang siap dan kuat atas kehilangan sesuatu, terlebih lagi seorang yang begitu dekat hubungan darahnya dengan kita. Apalagi posisi temanku ini sedang berada di luar Kenya, tepatnya dia sedang bekerja di Istanbul, Türkiye. Aku bisa merasakan bagaimana raganya meminta pulang untuk memberikan peluk yang terakhir, tetapi kenyataan menolaknya mentah-mentah. Kukatakan padanya bahwa tidak apa-apa merasakan sedih. Tidak berdosa merasakan rapuh. Bukankah perasaan sedih juga perlu dirayakan kehad...

Kebahagiaan Bertumpu pada Sate Ayam Madura

Perbedaan adalah keniscayaan. Setiap orang punya definisi tentang sesuatu yang berbeda. Contohnya, bagi si A sukses itu bisa bangun di pagi hari tanpa mematikan alarm lagi. Menurut si B, sukses itu ketika dia bisa punya gaji dua digit. Definisi sukses menurut si A dan si B itu tidak salah. Dua-duanya valid menurut pendapat masing-masing. Pada suatu hari, aku bersama lima temanku terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang laki-laki dari generasi boomers. Laki-laki itu mulanya bertanya satu per satu tentang pekerjaan kami. Oh ya, kebetulan aku dan empat temanku (kecuali satunya), belum menikah, kebetulan juga kami masih single. Laki-laki tua itu seolah mengasihani kami. Pertama karena gaji kami belum mentereng (padahal salah satu dari kami itu ada yang sudah punya usaha sendiri dan mampu beli mobil). Kedua, tentu saja karena kami masih single. Status single seolah-olah adalah sebuah petaka bagi si generasi boomers itu. Dan aku rasa, banyak juga generasi boomers berpikir hal yang sam...