Langsung ke konten utama

Menjadi Manusia: Perpisahan (Untuk Eril)

Dengan damai, kamu pulang dalam dekapan Aare.

Dengan izin Tuhan, kamu berkelimpahan doa-doa. Kalau saja kamu lihat, doa-doa itu bergerak seperti lesatan anak-anak panah. Cepat. Menuju langit. 

Dari kamu dan kisah-kisah perpisahan yang lain, membuat diri belajar bahwa siapa pun yang ada dalam hidup kita, cepat atau lambat, akan berada pada titik lambaian tangan. Tanggalnya sudah tercatat. Hanya saja kapannya akan selalu menjadi rahasia hingga hari itu tiba. 

Aku pernah menulis bahwa sebaik apa pun persiapan kita terhadap sebuah perpisahan, sejatinya kita tidak akan pernah siap. 

Perpisahan yang sudah disiapkan saja kita runtuh, apalagi yang tanpa pamitan? 

Pada suatu hari, bunga-bunga di hati kita bisa bermekaran indah. Di hari yang lain, bunga-bunga itu bisa tiba-tiba raib entah ke mana. 

Hidup selucu dan sepenuh kejutan itu. Namun, beberapa hal lucu dan kejutan bisa membuat kita senang, beberapa lainnya meninggalkan duka mendalam. 

Aku belajar sesuatu dari Aare, tempat kamu pulang mengetuk pintu perpisahan, bahwa selagi ada waktu bersama dengan orang-orang yang kamu sayangi, hargai keberadaan mereka. Esok lusa, mana tahu takdir bilang atas kebersamaanmu dengan mereka, "Sudah selesai. Sampai di sini, ya.... " Tanpa aba-aba. 

Selamat melanjutkan perjalanan, Eril.

Semoga doa-doa terbaik yang melesat ke Langit membersamai kamu bertemu Sang Pemilik Kehidupan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAHADAT CINTA DI UJUNG SENJA oleh Fitri Nurul Aulia

Detak jarum jam yang terus melangkah menggema ke seluruh ruangan bercat putih. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Seorang Gadis masih sibuk membenahi sebuah toko busana muslimah milik bibinya yang terletak di jalan Istiklal Street , daerah Taksim, Istanbul. Setelah selesai berbenah, Gadis berparas timur tengah itu bergegas meraih mantel berwarna coklatnya, yang tak jauh dari meja kasir tempat yang ia duduki sekarang. Tak lupa, ia juga melingkarkan syal tebal berwarna putih di lehernya yang senada dengan warna hijabnya. Maklum, di luar sana, salju di bulan Desember sedang turun dengan derasnya—hingga kota bak di selimuti dengan mantel putih nan bersih namun beraura kaku. Gadis itu tak akan rela jika tubuhnya diselimuti rasa dingin yang menusuk tulang dan membekukan persendian. Setelah menggembok rapi pintu pagar toko, segera ia melesat meniggalkan toko menuju apartemen yang ditinggalinya bersama paman dan bibinya. Turunnya salju yang disertai hembusan an...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Kedua

Senyuman memang selalu indah. Tetapi aku juga menemukan definisi itu dalam rupa kesedihanmu. "Mengapa" seharusnya menjadi sebuah kata yang membuat seseorang mengernyitkan kening. Tetapi tidak denganku. Semakin kulihat luka di ragamu, semakin aku jatuh cinta.  Duhai, Februari, izinkan aku menetap dalam perih dan sesakmu, dalam duka dan marahmu, dalam kecewa dan takutmu. Tidak untuk sesekali, tetapi untuk selamanya. Sebab tubuhku adalah rumah kekal untuk jiwamu.  Bogor, 2 Februari 2023

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...