Langsung ke konten utama

Patah - Tentang Dia 2 - Episode 12


Acara tahlil baru dimulai selepas maghrib. Dion bersama Bapak pergi ke musola bersama untuk solat maghrib. 

Sekembalinya, acara tahlil pun digelar. 


Kurasa acara tahlil itu memakan waktu yang sebentar. Tiga puluh menit kurang lebih. Tapi sepertinya juga kurang dari itu. Kudapati wajah Dion yang ingin protes kebingungan. 

"Cepat sekali mereka membaca Yassin? Aku belum selesai, tiba-tiba yang lain sudah selesai. Ketinggalan aku." 

Aku hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli melihat ekspresi wajah Dion. 

Kami tidak langsung pulang ke rumah. Beberapa jenak kami berkumpul sambil mengobrol. Kudapati wajah Dion yang lucu sebab tak sepatah kata pun ia mengerti. Aku tertawa kecil meledek. Dari sebrang tempat dia duduk, ia menggerakkan bibirnya. Katanya begini, "Ngomong apa? Aku enggak ngerti."

Akhirnya aku pun tertawa. Kasihan melihat Dion bak di negeri antah berantah. 

Itu hanya sepotong cerita yang masih aku simpan baik dalam memori tentang Dion. Ekspresi wajahnya yang terekam baik di salah satu bagian otakku. Tingkah lucunya yang natural. Apa adanya. Tidak canggung. Mudah berbaur. Kata temanku, jika aku bersamanya, aku tidak akan merasa bosan. Baik. Aku setuju akan itu. 

Aku tersadar di mana posisiku sekarang, di mana aku sedang berpijak. Tubuhku sedang menoleh ke belakang, menghadap pada potongan kenangan yang amat jauh dan mustahil untuk digenggam. Meski aku ingin... 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IT WAS A WILD ADVENTURE TO BE A PRINCESS by Fitri Nurul Aulia (041114039)

Maybe you have been dreaming about to be one of the princesses in fairy tales who married to the princes. They are cool when they ride the horses. And, it was Friday, 4th of November 2016. The sun is cooperated with our plan, my friends’ and mine. Sunny day. We were going to make our dreams come true—even though it’s just our imagination—visiting horses’ stable in order to get some knowledge about horse and to ride it just like the princess. We promised to meet up in our campus at 8 A.M so as soon as we could leave to the stable. Promise was just a promise which was so hard to be done. The two of us were late. Does the princess late in fairy tale? We kept waiting for them on the bridge that really close to our campus. While waiting, we stared at the cars and motorcycles that passed by, hoping that our friends who were still on the way would coming soon. As we had known an information from the horse’s keeper that the horse would be stabled at about 11:30 A.M, our hearts went fast...

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...

MY NAME IS MUHAMMAD Oleh : Fitri Nurul Aulia

Seperti biasa, setiap usai kuliah, aku selalu menyempatkan diri ke Red Square— yang merupakan alun-alun Kota Moskow, Rusia. Aku senang berkunjung ke sini untuk menikmati pesona Moskow yang disihir oleh sihir duniawi dan sihir keagungan Sang Maha Pencipta jagat raya. Sering kuabadikan momen-momen cantik dengan kamera digitalku, walau sudah berkali-kali kutampakkan ragaku di sini. Red square—yang didominasi oleh bangunan-bangunan berwarna merah bata, sering dijadikan tempat tongkrongan oleh pemuda-pemuda Moskow. Area ini juga, merupakan salah satu tempat yang wajib hukumnya ditelusuri oleh pelancong dari pelbagai negara. Walau aku bukan seorang pemudi asal Moskow, namun alun-alun ini juga sudah menjadi tempat   tongkronganku. Sejauh mata memandang, mataku menangkap begitu banyak turis-turis yang berlalulalang disekitar alun-alun. Cuaca indah nan sejuk, dengan matahari musim semi yang menawan, menjadi salah satu faktor pendukung bagi turis-turis untuk menjamahi area Red Square....