Langsung ke konten utama

Potongan Kisah yang Belum Usai (Catatan KF20 Bagian II)


Setahun lebih telah berlalu...

Dan aku di sini, di dalam kamar berukuran 3 X 3 meter, sedang mengumpulkan kenangan-kenangan. Mengingat serpihan yang paling penting (setidaknya bagiku).

Ini..., kisah selanjutnya.

Apa yang kutahu tentang Kampus Fiksi saat itu? Aku tidak tahu banyak. Tapi karena beberapa teman di facebook adalah penulis, dan pernah mengikuti acara tersebut, aku jadi tahu sedikit banyak. Kampus Fiksi adalah pelatihan menulis yang diselenggarakan di Jogjakarta oleh Ceo penerbit Diva Press Bapak Edi AH Iyubenu (Aku sungguh berterima kasih kepada Bapak Edi karena telah mengadakan acara keren tersebut). Saat itu aku tidak tahu bagaimana caranya mengikuti acara tersebut. Yang kutahu hanya Kampus Fiksi adalah acara pelatihan menulis dan diadakan di Jogjakarta dan pesertanya dapat oleh-oleh buku yang bejibun. Dan micinya, aku tidak mencari tahu lebih banyak dari itu. Micing emang! Tapi setidaknya aku tahu wajah Pak Edi yang mana dan aku telah berteman dengan beliau di facebook sejak 2016 (kalau tidak salah).

Maka kala Diva Press mengumumkan bahwa akan diadakannya Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, aku gembira bukan main. Akhirnyaaaaa.... setidaknya kan Jakarta jauh lebih dekat dari kotaku daripada Jogjakarta (kala itu).






Kuajak kawan-kawan kampus (Seli, Santa, Mei, dan Nurul) yang terbiasa bersama dan memiliki minat menulis (kecuali Nurul). Acara tersebut hari Minggu tanggal 6 November 2016 di Gramedia Matraman. Maka kami berjanji untuk berangkat bersama (kecuali Santa) dari Stasiun Bogor menuju lokasi. Rencanya diatur bahwa pukul (kalau tidak salah) setengah delapan kami berangkat. Tapi tahu lah bagaimana, jam karet, kami bertolak menuju Jakarta pukul 8 lewat. Santa yang sudah berada terlebih dahulu sampai di tempat, terus menghubungi kami. Bilang bahwa acaranya sudah mau mulai. Pada saat itu kami baru tiba di Stasiun Cikini dan hendak memesan transportasi online.
Aku tidak pasti pukul berapa aku dan teman-teman akhirnya tiba di Gramedia Matraman. Tanpa ba-bi-bu kami segera meluncur ke ruangan tempat acara berlangsung. Kami daftar ulang, kemudian mendapatkan tottebag berserta isinya (pulpen, buku catatan, dan sebuah buku), setelah itu segera mencari tubuh Santa yang sudah duduk membaur bersama dengan peserta yang lain.

Suasana di sana...penuhhh.... Antusias orang-orang bagus sekali.

Acara sudah dimulai. Mbak Avivah sudah sibuk membawakan acara. Presentasi pertama kalau tidak salah dibawakan oleh Kak Reza. Kupikir saat itu, siapa pula Reza Nufa itu. Tak kenal aku (lain seperti Wulida yang tahu sedikit banyak tentang beliaunya. Sampai-sampai kirim surat segala. Hahaha). Lalu dilanjutkan oleh Pak Edi yang menjelaskan seputar dunia tulis-menulis. Acara terakhir adalah tantangan menulis selama satu jam. Gila! Satu jam! Dan yang menarik adalah tulisan-tulisan tersebut akan diseleksi sehingga bisa mengikuti acara Kampus Fiksi di Jogjakarta! Semangat aku! Dari kami berlima, hanya aku dan Mei yang ikut tantangan tersebut, Seli, Nurul, dan Santa memilih menikmati suasana.

Aku gugup dan panik sebab tidak diberi waktu banyak untuk menulis, sedangkan dalam hati terus bilang pokoknya aku harus bisa gol! Bisa! Punya bank ide menguntungkan sekali. Aku segera mencari ide-ide yang kukumpulkan dalam ponsel. Dipilihlan sebuah ide cerita dengan judul “Nenah Ingin Menjadi Miss World”.

Berpacu dengan waktu, aku menulis sungguh-sungguh demi Golden Ticket ke Jogjakarta. Tak mudah mengolah cerita dalam kurun waktu satu jam. Ketika saatnya tiba tulisanku nampak terlalu tergesa-gesa untuk disudahi. Mau tak mau harus aku kumpulkan kepada mentorku (aku lupa nama mentornya. Maaf aku agak sulit menghapal nama). Pukul 12 acara diistirahatkan dan akan dilanjutkan satu jam kemudian.

Setelah isoma, kami kembali ke titik ruangan. Cerpen-cerpen yang tadi ditulis mulai dibahas untuk selanjutkan akan dikumpulkan untuk diseleksi.
 
Apakah aku berharap mendapatkan Golden Ticket? Ya!
Tiga hari kemudian, tanggal 9 November 2016, Allah menjawabnya. Aku lolos!
Jogja, I am coming!!!!
 
Tunggu dulu!
 
Aku gugup! Apa? Aku akan melakukan perjalanan seorang diri? ke Jogja!?
Jelas ini “masalah” buatku. Aku takut melakukan perjalanan panjang seorang diri. Takut tersesat dan lain sebagainya seputar pikiran negatif.

Dari sinilah petualangan itu dimulai. Aku mulai mencari orang yang mungkin bisa aku ajak pergi bersama menuju Jogjakarta. Kucari nama di daftar peserta yang diumumkan melalui facebook.
 
Dan..., dapat! Aku mengontak seseorang bernama Jihan Suweleh.
 
Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAHADAT CINTA DI UJUNG SENJA oleh Fitri Nurul Aulia

Detak jarum jam yang terus melangkah menggema ke seluruh ruangan bercat putih. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Seorang Gadis masih sibuk membenahi sebuah toko busana muslimah milik bibinya yang terletak di jalan Istiklal Street , daerah Taksim, Istanbul. Setelah selesai berbenah, Gadis berparas timur tengah itu bergegas meraih mantel berwarna coklatnya, yang tak jauh dari meja kasir tempat yang ia duduki sekarang. Tak lupa, ia juga melingkarkan syal tebal berwarna putih di lehernya yang senada dengan warna hijabnya. Maklum, di luar sana, salju di bulan Desember sedang turun dengan derasnya—hingga kota bak di selimuti dengan mantel putih nan bersih namun beraura kaku. Gadis itu tak akan rela jika tubuhnya diselimuti rasa dingin yang menusuk tulang dan membekukan persendian. Setelah menggembok rapi pintu pagar toko, segera ia melesat meniggalkan toko menuju apartemen yang ditinggalinya bersama paman dan bibinya. Turunnya salju yang disertai hembusan an...

Surat Cinta untuk Februari #Bagian Kedua

Senyuman memang selalu indah. Tetapi aku juga menemukan definisi itu dalam rupa kesedihanmu. "Mengapa" seharusnya menjadi sebuah kata yang membuat seseorang mengernyitkan kening. Tetapi tidak denganku. Semakin kulihat luka di ragamu, semakin aku jatuh cinta.  Duhai, Februari, izinkan aku menetap dalam perih dan sesakmu, dalam duka dan marahmu, dalam kecewa dan takutmu. Tidak untuk sesekali, tetapi untuk selamanya. Sebab tubuhku adalah rumah kekal untuk jiwamu.  Bogor, 2 Februari 2023

KOLAK PISANG NAIRA oleh Fitri Nurul Aulia

Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh sore ketika aku dan kelima temanku baru saja keluar dari kantor. Artinya, sekitar tiga puluh menit lagi menuju adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sambil berjalan cepat, sesekali aku melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. “Sepertinya kita akan buka di jalan nih.” Kataku pada teman-teman. “Iya juga ya,” kata Raihan, salah satu temanku. Kami berhenti di sebuah taman kota, kemudian kami duduk di sebuah bangku kayu panjang. Aku sapu pandanganku mencari santapan untuk berbuka. Aku menyeringai senang, “Di sana ada bazar ramadhan tuh! Bagaimana kalau aku kesana?” Aku menatap sebuah tenda putih memanjang di seberang jalan. Teman-teman mengiyakan tawaranku. Aku segera melesat menuju bazar ramadhan di seberang jalan sana. Ketika sampai, aku celingak-celinguk, semua makanan sudah habis terjual. Sedikit kecewa. Aku putar pandanganku menatap teman-teman yang sedang menunggu di seberang jalan sana, berharap aku kembali ...